Komunitas penggerak relawan bagi pasien kanker dan penyakit berisiko tinggi pada anak.
Bersama kita bisa saling meringankan beban dan berbagi keceriaan.

Kegiatan Terkini

Comments Box SVG iconsUsed for the like, share, comment, and reaction icons

Selasa, 20 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Rayakan kali ini menyambangi Bogor untuk bikin kejutan anak ganteng yang mau punya tas dan sepatu baru.

Selamat ulang tahun Danial. Rajin belajar dan semakin hebat ya
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Selasa, 20 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Sungguh challenging mencari hadiah yang bisa bikin pasien remaja 16 tahun senang.

Semoga barokah dan semakin happy ya. Selamat ulang tahun Syabil!
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Selasa, 20 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Rayakan kali ini beda dengan yang lain.
Kami mendatangi sekolah Khanza atas izin kepala sekolah untuk memberi kejutan kecil.

Serunya sampai terasa ke hati. Semoga berkesan dan menjadi semangat. Selamat ulang tahun Khanza!
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Load more

Kisah Kami

“Selain secara pribadi memberikan dukungan moral, Komunitas Taufan juga membantu keluarga pasien memenuhi berbagai pengeluaran tambahan yang diperlukan ketika merawat anak di rumah sakit, seperti ongkos transportasi, susu, popok dan lainnya. Itu yang tidak dijamin oleh BPJS, dan dari pengalaman pribadi saya, kebutuhan seperti itu harus dipenuhi dan seringkali paling dibutuhkan.”

Sumber: Komunitas Taufan: A Pillar of Support to Sick Children (Jakarta Globe, Januari 2014)

“Istilahnya, pasien butuh hiburan, orang tua pasien butuh pundak untuk bersandar… Kalau anaknya sudah bertahun-tahun (menjalani pengobatan kanker di RSCM), kami memanggilnya profesor. Kalau baru beberapa bulan, kami memanggilnya pak atau bu lurah… Kami kadang bercanda dan tertawa di siang hari. Tapi, di malam hari, yang terdengar adalah suara isak tangis (para orang tua).”

Sumber: Tak Ingin Nasib Anak-Anak Itu seperti Buah Hatinya (Jawa Pos, Oktober 2014)

“Pasien baru biasanya dapat support banyak dari keluarga dan teman-teman pada awal-awal. Namun satu-dua bulan kemudian, dukungan mulai mengendur. Itu juga yang saya alami… Orang tua yang harus kuat agar anak yang sakit juga bisa kuat.”

Sumber: Solidaritas untuk Meringankan Beban (Kompas, Maret 2015)

Kata Mereka