Komunitas penggerak relawan bagi pasien kanker dan penyakit berisiko tinggi pada anak.
Bersama kita bisa saling meringankan beban dan berbagi keceriaan.

Kegiatan Terkini

Comments Box SVG iconsUsed for the like, share, comment, and reaction icons

Minggu, 11 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Rayakan kali ini bersama Kalya, pasien Retinoblastoma yang berulangtahun di bulan Oktober juga.

Cita-citanya menjadi pilot dan Kalya ingin sekali punya seragam pilot untuk dipakai di kegiatan sekolah.

Semoga senang dan menambah semangat ya.
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Sabtu, 10 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Perayaan 12 tahun Yayasan Komunitas Taufan kolaborasi dengan CIMSA UI dihadiri oleh pejuang cilik dan keluarga besar Komunitas Taufan.

Selamat bertumbuh dan semakin banyak menebar kebahagiaan untuk sesama 💞
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Jumat, 09 Oktober, 2026

Komunitas Taufan

Komunitas Rajut Indonesia menginisiasi project bersama BEANNIE FOR CHARITY yang akan disumbangkan kepada pasien kanker anak berkolaborasi dengan Yayasan Komunitas Taufan.

Terimakasih teman-teman rajuters yang menyemarakkan bulan Oktober dengan RAYAKAN bersama pejuang cilik.
... Selengkapnya (see more)Ringkaskan (see less)

Load more

Kisah Kami

“Selain secara pribadi memberikan dukungan moral, Komunitas Taufan juga membantu keluarga pasien memenuhi berbagai pengeluaran tambahan yang diperlukan ketika merawat anak di rumah sakit, seperti ongkos transportasi, susu, popok dan lainnya. Itu yang tidak dijamin oleh BPJS, dan dari pengalaman pribadi saya, kebutuhan seperti itu harus dipenuhi dan seringkali paling dibutuhkan.”

Sumber: Komunitas Taufan: A Pillar of Support to Sick Children (Jakarta Globe, Januari 2014)

“Istilahnya, pasien butuh hiburan, orang tua pasien butuh pundak untuk bersandar… Kalau anaknya sudah bertahun-tahun (menjalani pengobatan kanker di RSCM), kami memanggilnya profesor. Kalau baru beberapa bulan, kami memanggilnya pak atau bu lurah… Kami kadang bercanda dan tertawa di siang hari. Tapi, di malam hari, yang terdengar adalah suara isak tangis (para orang tua).”

Sumber: Tak Ingin Nasib Anak-Anak Itu seperti Buah Hatinya (Jawa Pos, Oktober 2014)

“Pasien baru biasanya dapat support banyak dari keluarga dan teman-teman pada awal-awal. Namun satu-dua bulan kemudian, dukungan mulai mengendur. Itu juga yang saya alami… Orang tua yang harus kuat agar anak yang sakit juga bisa kuat.”

Sumber: Solidaritas untuk Meringankan Beban (Kompas, Maret 2015)

Kata Mereka